Menarik pembaca demi menstimulasi penggunaan hasil riset ilmiah merupakan hal yang sangat penting bagi penyebaran ide-ide dalam makalah ilmiah yang Anda tulis ke dunia keilmuan. Tentu saja, sesungguhnya semua peneliti menulis makalah untuk ditujukan pada manusia sebagai pembacanya. Namun, dalam dunia teknologi informasi seperti sekarang para peneliti umumnya menggunakan internet untuk mencari artikel-artikel yang berguna bagi riset mereka. Bahkan, ternyata lebih dari setengah arus pembaca ke jurnal-jurnal ilmiah berasal dari mesin pencari seperti Google, Google Scholar, dll. Contohnya, SAGE Publications menghitung bahwa sekitar 60% dari arus pembaca mereka merupakan hasil dari pencarian, atau data Wiley Online Library yang menunjukkan 58% arus dari mesin pencari dan 31% dari situs web rujukan lain. Maka dari itu, selain menarik untuk dibaca oleh orang lain, sebuah artikel ilmiah juga harus ramah untuk dibaca oleh mesin pencari.

Faktanya, mesin pencari modern menggunakan algoritma matematika yang sangat kompleks untuk menentukan keterkaitan antara sebuah artikel ilmiah dan kata kunci (key word) yang digunakan pengguna mereka. Algoritma tersebut bersifat sangat rahasia dan selalu berubah. Algoritma itu meliputi ratusan faktor yang menentukan akurasi pencarian artikel dari ratusan ribu jurnal ilmiah sehingga membantu para pengguna (users) mesin mencari untuk mendapatkan artikel yang sesuai, membacanya, dan merujuknya dalam riset mereka. Lalu, sitasi tersebut akan membantu peningkatan Impact Factors dari jurnal dimana artikel tersebut terbit, dan akhirnya akan semakin meningkatkan peringkat artikel terkait dalam hasil pencarian mesin pencari. Berikut merupakan beberapa dari faktor-faktor yang digunakan dalam algoritma mesin pencari khusus untuk artikel ilmiah:

  • Judul artikel ilmiah
  • Deskripsi halaman
  • Abstrak & kata kunci
  • Relevansi isi artikel
  • Kualitas isi jurnal
  • Kuantitas isi makalah
  • Keunikan isi
  • Ketepatan ejaan
  • Format-format penting seperti sub-judul, dll.
  • Jumlah tautan dari situs-situs ilmiah
  • Tautan yang berfungsi vs. rusak
  • Metadata di file artikel ilmiah
  • Waktu baca dalam situs jurnal
  • Jumlah pembaca artikel ilmiah
  • Jumlah pembaca berulang
  • Jumlah klik pengguna mesin pencari

Maka, kemungkinan sebuah artikel untuk disajikan dalam hasil pencarian sangat bergantung pada kemudahan dan keterkaitan data sebuah artikel terhadap kata kunci (key word) yang dimasukkan oleh pengguna. Tentu saja, para penerbit jurnal ilmiah sudah berusaha untuk melakukan SEO (search engine optimization) pada situs web mereka sehingga bisa menjadi prioritas mesin pencari alias muncul dalam halaman-halaman awal hasil pencarian. Sebagai penerbit mereka berkepentingan agar jurnal-jurnal mereka dibaca oleh seluas mungkin pembaca dan dirujuk oleh sebanyak mungkmin jurnal lain di masa depan. Namun nyatanya jurnal ilmiah apapun terdiri dari artikel-artikel ilmiah yang ditulis secara individu/tim penulis. Dengan kata lain, SEO dari masing-masing artikel ilmiah sangat bergantung pada peneliti sebagai penulisnya, dan dimulai dari proses penulisan sebuah artikel.

Melakukan SEO pada Artikel Ilmiah

Seluruh data artikel ilmiah yang ditampilkan oleh situs web jurnal/penerbit berasal dari artikel itu sendiri. Umumnya, sebuah artikel terdiri dari: Judul, Nama Penulis & Afiliasi, Abstrak, Kata Kunci, Sub-judul, Isi, dan Referensi/Bibliografi. Berikut merupakan 7 langkah SEO yang bisa diterapkan pada sebuah artikel ilmiah:

SEO 1: Bangun isi makalah, pilih beberapa kata kunci

Langkah pertama adalah fokus pada penyelesaian isi makalah. Konten adalah bagian utama dalam artikel Anda, dan merupakan rekaman riset Anda secara lengkap. Karena itu, ketika melakukan SEO isi tetap menjadi perhatian utama. Bangun konten artikel Anda secara linear/runut, jelas, padat, dan mengandung kata-kata spesifik yang menunjukkan keunikan riset Anda. Dalam menulis isi, tekankan pada sekitar 4-5 kata dan 3-4 frase kunci. Kata-kata & sejumlah frase spesifik itulah yang akan menjadi kunci artikel Anda dalam SEO. Atur sedemikian rupa sehingga kata-kata/frase kunci tersebut masuk dalam alur penjelasan dalam isi secara natural. Jika bagian-bagian kunci tadi Anda pergunakan secara berlebihan, mesin pencari akan menganggapnya sebagai bagian yang terlalu berulang (excessive redundant) dan tidak unik lagi.

SEO 2: Bagi isi artikel, gunakan subjudul

Setelah menyelesaikan isi, maka pisahkan isi tersebut ke beberapa bagian utama dan sub-bagian, misalnya” Pembuka (Introduction), Kajian Pustaka (Literature Review), Metodologi Penelitian (Research Methodology), Temuan/Diskusi (Findings/Discussions), dan Penutup (Conclusions). Dalam memberikan judul bagian, gunakan format judul (headings) yang tersedia di word processor Anda. Untuk judul bagian utama, gunakan format H2. Semakin dalam tingkat judul, gunakan format yang mengecil (H3, H4, H5, atau H6). Dalam setiap tingkatan judul, gunakan kata-kata/frase kunci sebagai fokus, dan masukkan ke dalam subjudul. Misalnya:

1. Introduction: The Potentials of Ocean Acidification

Posisi kata “Introduction” merupakan judul bagian terkait, dan kalimat “The Potentials of Ocean Acidification” sebagai subjudul yang mengandung frase kunci “ocean acidification.” Judul bagian akan menunjukkan posisi bagian tersebut secara integral dari artikel Anda, dan subjudul menjadi penjelas awal mengenai isi bagian tersebut. Dalam kacamata SEO, posisi frase kunci tersebut akan menguat karena mendapat posisi sebagai judul bagian/heading.

SEO 3: Selesaikan referensi memakai format penulisan yang benar

Setelah isi artikel Anda selesai dibagi dan diberi judul, selesaikan daftar pustaka Anda. Gunakan standar penulisan referensi ilmiah (bibliografi) yang benar sesuai permintaan jurnal yang Anda tuju. Yang paling penting, rapikan daftar referensi Anda dengan sempurna sesuai standar, karena daftar ini sangat penting di mata mesin pencari dalam membangun keterkaitan antar artikel ilmiah di seantero internet. Bibliografi menunjukkan sitasi, sitasi menunjukkan relevansi, relevansi menunjukkan tingkat kepentingan sebuah artikel di dunia publikasi ilmiah. Semakin banyak suatu artikel dirujuk/masuk ke dalam daftar referensi, SEO-nya semakin kuat. Ketepatan standar dan konsistensi/kerapian pembuatannya juga berpengaruh pada tingkat keterbacaan suatu artikel di mata mesin pencari. Semakin berantakan daftar pustaka, semakin tidak terbaca, sehingga SEO makin memburuk.

SEO 4: Tulis abstrak secara linear, masukkan kata/frasa kunci

Lalu, tulis abstrak Anda. Abstrak merupakan bagian terbuka yang bisa diakses bebas oleh mesin pencari manapun. Karena itu, penulisan abstrak punya peran sangat penting dalam SEO. Dari kata-kata/frase kunci yang Anda kumpulkan dari isi, bangun abstrak Anda. Sesuaikan linearitas abstrak dengan isi artikel Anda, sehingga abstrak benar-benar menjadi cerminan isi artikel tersebut. Jangan lupa tambahkan sekilas peluang riset lanjutan (research insight), karena sangat berguna bagi peneliti lain untuk menawarkan kerjasama riset/penulisan artikel di masa depan. Di samping itu, gunakan kata-kata/frase kunci beberapa kali dalam abstrak namun masih dalam jumlah yang wajar. Silakan lihat contoh gambar di bagian paling atas. Walau frase “ocean acidification” diulang beberapa kali, konteksnya tetap sesuai dengan linearitas abstrak, sehingga selain penjelasan tetap enak dibaca juga mempunyai nilai SEO yang sangat baik.

SEO 5: Buat list key words menggunakan kata/frasa unik

Setelah abstrak, maka ubah daftar kata/frase kunci dari isi artikel Anda menjadi daftar kata kunci dalam metadata artikel (list of key words). Usahakan untuk mempergunakan maksimal dua kata dalam satu kata kunci artikel, sehingga daftarnya tidak menjadi berlebihan. Selain itu, jika tidak ada aturan format urutan kata kunci artikel, posisikan kata kunci paling utama di depan, dan semakin menurun kepentingannya ke belakang. Bagian list of key words inilah yang menjadi titk mula bagi mesin pencari untuk mengindeks artikel Anda. Kata kunci yang bagus akan menjadi gerbang SEO yang baik. Posisi kata kunci utama di bagian depan akan memperkuat posisi kata tersebut dalam SEO.

SEO 6: Beri judul artikel, gunakan 2-3 kata paling spesifik

Jika sudah menyelesaikan lima langkah di atas, baru berikan judul utama pada artikel Anda. Judul artikel merupakan judul yang dimunculkan mesin pencari dalam peringkat hasil pencarian mereka. Dengan kata lain, judul artikel merupakan hal paling awal yang dibaca pengguna mesin pencari. Gunakan kata-kata kunci utama di dalam judul artikel, dan usahakan agar posisinya berada di bagian depan. Lalu, gunakan format H1 pada judul artikel untuk memberitahu mesin pencari bahwa bagian tersebut adalah judul keseluruhan artikel. Penggunaan format H1 (heading), posisi kata kunci di bagian depan, dan kalimat judul yang menarik akan berimplikasi pada beberapa faktor SEO sekaligus seperti relevansi kata kunci, tingkat kepentingan kata kunci, jumlah klik pengguna mesin pencari, dll.

SEO 7: Tulis nama penulis & afiliasi secara konsisten

Akhirnya, tuliskan nama-nama penulis yang terlibat dalam pembuatan manuskrip Anda. Jika tidak ada aturan khusus di institusi Anda, posisikan urutan penulis sesuai jumlah kontribusinya. Mesin pencari akan menganggap penulis pertama sebagai nama utama, dan memberikan keterkaitan terkuat pada isi artikel. Selain itu, gunakan format singkatan nama yang konsisten di semua naskah ilmiah Anda. Format nama yang konsisten akan mempermudah mesin pencari untuk membangun keterkaitan antar makalah-makalah yang sudah Anda tulis dan nama Anda, termasuk dengan kata-kata kunci masing-masing artikel dan keterkaitannya dengan publikasi-publikasi lain dalam bidang ilmu yang sama.

(RE/Marta)

Shares

Share This

Share this post with your friends!