Delhi, India – Deepak Pental (63), Mantan Wakil Rektor Delhi University, ditahan oleh Pengadilan Tinggi (High Court) Delhi pada Selasa malam karena kasus dugaan kecurangan, pemalsuan, dan plagiarisme. Namun kemudian dia dibebaskan dari penjara Tihal melalui arahan dari Pengadilan Tinggi.

Dalam kasus yang terjadi tahun 2009, P. Pardha Saradhi, seorang profesor dari Delhi University, menuduh Prof. Pental, sesama profesor dari universitas yang sama, telah memplagiat makalah miliknya dan mempublikasikan makalah tersebut sebagai milik Prof. Pental pribadi. Makalah tersebut berisi tentang riset bioteknologi yang dikerjakan Prof. Saradhi. Saradhi juga menuduh Pental mencuri benih rekayasa genetika dari laboratoriumnya untuk pengerjaan penelitian yang tidak sah.

Menurut pihak kepolisian dan penjara Tihar bahwa Pental dibebaskan dari penjara sekitar setengah 7 malam waktu setempat setelah perintah Pengadilan Tinggi sampai pada mereka. Pental ditahan oleh polisi sehari sebelumnya setelah Pengadilan Rendah memerintahkan penangkapannya.

Tuduhan

Pental membantah semua tuduhan terhadap dirinya dan menyatakan bahwa ia tidak bersalah. “Ini semua tuduhan yang sembrono dan hanya pengadilan yang bisa memutuskan kebenarannya,” kata Pental kepada wartawan sebuah surat kabar di India.

Saradhi, seorang profesor di Departmen Studi Lingkungan, menyatakan bahwa pekerjaan penelitiannya dijiplak oleh Pental dan seorang mahasiswa lain.

Dugaan Saradhi: “KVSK Prasad adalah mahasiswa S3 di bawah supervisi saya di Jamia Milia Islamia. Pental menunjuknya sebagai seorang mahasiswa pasca-doktoral di bawah dirinya. Dengan diam-diam, Pental dan Prasar mencuri benih sawi transgenik codA yang dikembangkan tim saya dengan pendanaan India-Japan Cooperative Science Programme. Pental juga mempersilakan Prasad untuk mengunakan benih GM tersebut dalam penelitian lebih lanjut, dengan menyadari sepenuhnya bahwa semua bahan GM diberi label ‘Berbahaya’ berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Lingkungan India (Environmental Protection Act – EPA).

Saradhi juga mengatakan bahwa Prasad dan anggota-anggota lain dari tim penelitiannya gagal untuk mendapatkan hasil riset yang baru.

Prasad dan Deepak menjiplak hasil penelitian yang dilakukan oleh tim saya di Jamia antara tahun 1995-1999 dan mengklaimnya sebagai pekerjaan yang dilakukan di laboratorium Deepak Pental selama 2001-2004. Kalimat-kalimat (dengan verbatim yang sama persis) dan data (dengan gambar/angka yang sama) yang disalin dari laporan yang saya serahkan kepada DST yang didanai India-Japan Cooperative Science Programme,” duga Saradhi.

Saradhi mengklaim bahwa ia pernah menyampaikan keluhan pada pihak universitas, yang akhirnya ditanggapi melalui pembentukan sebuah komite untuk memeriksa masalah tersebut.

Setelah Pental ditahan atas perintah Kepala Pengadilan Rendah Vinod K. Gautam sekitar jam 12 siang, pengacaranya mencoba banding ke Pengadilan Tinggi untuk menunda perintah penahanan tersebut. Berita tersebut tersebar sebelum hakim Muralidhar, yang menunda perintah penangkapan dari Pengadilan Rendah, mengatakan penundaan itu.

Hakim Muralidhar mengarahkan Pental untuk tampil di hadapan sidang pengadilan ketika jaminan terhadap dia sudah terdaftar. Pengadilan Tinggi meminta Panitera Umum untuk segera menyampaikan perintah penundaan tersebut ke Kepala Penjara Tihar lewat faksimile dan telepon untuk secepatnya memfasilitasi pembebasan Pental. Perintah Pengadilan Tinggi tersebut datang setelah permohonan dari seorang advokat senior, Arvind Nigam yang mewakili Pental, menyatakan bahwa terjadi kesalahan urutan pengadilan dan Pental ditahan secara ilegal lalu dikirim ke penjara Tihar. (Mail Today/India)

Shares

Share This

Share this post with your friends!