New Jersey, AS – ScholarOne Manuscripts™, sistem penelaahan online buatan anak perusahaan Thomson Reuters, tahun ini mendapatkan banyak citra negatif. Sistem yang diharapkan mampu menjadikan proses penelaahan makalah untuk dipublikasikan di jurnal ilmiah ternyata mempunyai banyak celah kritis.

Dalam musim panas tahun ini, seorang ilmuwan telah berhasil mengeksploitasi kegagalan keamanan yang sangat mendasar dari sistem tersebut, khususnya dalam cara bagaimana sistem tersebut secara otomatis memilih penelaah sejawat (peer-reviewers) berdasarkan sugesti dari penulis sebuah artikel. Kemudahan tersebut akhirnya disalahgunakan untuk membuat seorang penulis menelaah makalahnya sendiri. Kejadian tersebut akhirnya berimplikasi pada ditariknya 60 makalah ilmiah dan bahkan merembet sampai tragedi mundurnya Menteri Pendidikan Taiwan, Chiang Wei-lin.

Penarikan Artikel oleh Wiley Online Library

Sekarang, International Journal of Chemical Kinetics, sebuah jurnal terbitan Wiley Online Library yang menggunakan sistem ScholarOne Manuscripts™ yang sama, telah menarik sebuah artikel ilmiah yang telah dipublikasikan. Dalam pernyataan penarikan terhadap artikel berjudul “Acid-Catalyzed Aquation of Ni(II)-Hydrazone Complexes: Kinetics and Solvent Effect“, Wiley selaku penerbit menyatakan bahwa artikel tersebut ditarik berdasarkan persetujuan antara editor jurnal terkait dan Wiley Periodicals, Inc. karena penulis-penulisnya terbukti telah mengusulkan penelaahnya sendiri namun identitas penelaah-penelaah tersebut tidak dapat diverifikasi.

Sebuah situs berita independen mencoba mengklarifikasi berita tersebut ke editor jurnal terkait demi menanyakan apakah dia sudah mencurigai bahwa penulis-penulis tersebut telah melakukan proses penelaahan terhadap hasil tulisan mereka sendiri. Editor tersebut ternyata menjawab dengan diplomatis bahwa dia tidak bisa mengesampingkan kemungkinan itu. Suatu jawaban yang sebenarnya secara tidak langsung mengamini celah keamanan sistem ScholarOne Manuscripts™. Dengan kata lain, para editor jurnal pemakai sistem tersebut sebenarnya sadar akan kelemahannya, namun masih belum berdaya untuk mengubah sistem sesuai pemikiran mereka.

Di samping itu, editor jurnal terkait memberikan detail proses penelaahan sampai investigasi terhadap artikel yang ditarik. Pada mulanya, manuskrip dari artikel tersebut diterima untuk dipublikasikan berdasarkan dua hasil telaah dari dua orang penelaah sejawat (peer-reviewers). Setelah artikel tersebut dipublikasikan, pihak editorial menemukan bahwa alamat email yang digunakan dalam proses penelaahan tidak sesuai dengan alamat-alamat yang biasanya dipakai oleh para penelaah tersebut di publikasi-publikasi ilmiah mereka. Ketika kemudian para penelaah itu dihubungi melalui alamat email resmi di institusi masing-masing, ternyata mereka tidak pernah menelaah, bahkan tidak tahu sama sekali, manuskrip yang dimaksud.

Artikel tersebut akhirnya ditarik karena disimpulkan bahwa identitas yang dipakai dalam proses penelaahan tidak dapat diverifikasi. Penulis yang merupakan kontak utama dari artikel tersebut tidak dapat menjelaskan perbedaan informasi kontak tersebut, dan tidak dapat menunjukkan sumber informasi yang mereka masukkan dalam sistem penelaahan. Setelah menelusuri berbagai pola dalam sistem dan catatan mereka, pihak tim editorial meyakini bahwa ini hanya kejadian unik dan berbeda dengan kasus-kasus lain yang mempunyai potensi kesalahan yang sama. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa ini adalah semata kecurangan yang disengaja. Sebagai respon dari kejadian ini, maka pihak editorial telah menjamin adanya penguatan dari prosedur pengajuan penelaah melalui verifikasi independen terhadap informasi kontak dari setiap penelaah yang diajukan oleh penulis.

Kasus ini hanyalah satu dari begitu banyak penarikan artikel baik karena kasus plagiarisme, kecurangan dalam proses penilaian/peer-review, pemalsuan data, dll. (RE/Mark)

Shares

Share This

Share this post with your friends!