London, Inggris – Sebuah lowongan profesor telah memicu dugaan hinaan kepada dunia sains karena terdapat berbagai masalah yang menyertainya. Lowongan tersebut mencari seorang ilmuwan berpengalaman dengan kemampuan komunikasi ilmiah yang luar biasa dan pengalaman berinteraksi dengan media untuk mendukung misi pelibatan publik terhadap aktivitas ilmiah.

The Royal Society adalah salah satu komunitas masyarakat sains tertua dan bergengsi di dunia. Komunitas tersebut bersandar pada kontribusi sukarela dari para anggotanya dalam mendukung berbagai aspek dalam aktivitasnya berinvestasi pada pemimpin dunia keilmuan di masa depan demi mengusahakan pengembangan sains, rekayasa, matematika, dan kesehatan/obat-obatan melalui posisinya sebagai akademi ilmiah independen di Inggris (United Kingdom).

Lowongan Profesor Komunikasi Sains

Beberapa waktu yang lalu, the Royal Society mengiklankan lowongan professorship dengan keahlian mengenai keterlibatan publik dengan ilmu pengetahuan. Persisnya, mereka mencari “seorang ilmuwan berpengalaman dengan kemampuan komunikasi ilmiah yang luar biasa dan pengalaman berinteraksi dengan media untuk mendukung misi pelibatan publik terhadap pekerjaan the Royal Society.” Hal tersebut telah memicu dugaan hinaan kepada dunia keilmuan sains khususnya keahlian komunikasi sains karena minimal ada dua masalah yang menyertainya.

Pertama, mereka sepertinya menginginkan seseorang untuk melakukan pekerjaan public relations (PR), bukan pelibatan publik (public engagement). Keduanya berbeda, dan perbedaannya sangat besar. Dalam deskripsi pekerjaan yang diiklankan, secara garis besar mereka menginginkan seseorang untuk membantu pemahaman publik akan sains, dan secara eksplisit terlihat bahwa peran tersebut dirancang untuk meningkatkan dukungan publik pada ilmu pengetahuan. Namun, keterlibatan publik tidak hanya soal apa yang dinyatakan dalam iklan tersebut. Keterlibatan publik (public engagement) adalah tentang bagaimana membangun ruang untuk melakukan diskusi dan mewujudkan keterlibatan, bukan tentang pencitraan institusi. Pendekatan “keterlibatan” juga berarti bahwa usaha-usaha yang dilakukan komunitas ilmiah agar publik menyukai mereka sangat jarang berhasil terwujud sebagai sebuah sistem untuk membangun kepercayaan publik, dan sebenarnya hal itu tidak benar-benar berguna bagi komunitas. Secara sederhana, “keterlibatan” terjadi secara dua arah (two-ways), bukan dari atas ke bawah (top-down). Yang harus digarisbawahi, ilmu pengetahuan dalam masyarakat tidak seharusnya diatur secara kaku seperti sebuah model sederhana yang dapat dikendalikan secara mutlak. Namun, “keterlibatan” berarti membuka ilmu pengetahuan terhadap lingkungan yang lebih besar dan seringkali tidak berjalan mulus, dan itu berlawanan dengan ide menawarkan serangkaian pencitraan untuk berkomunikasi kepada masyarakat. Sebenarnya tidak ada yang baru dalam hal tersebut, karena sudah dimasukkan dalam kebijakan ilmu pengetahuan Inggris selama hampir lima belas tahun.

Masalah kedua adalah bahwa mengandalkan profesor dalam melakukan komunikasi sains menghasilkan respon yang kurang tangkas dalam menghadapi dinamika dalam masyarakat. Seorang profesor dengan keahlian keterlibatan publik seringkali hanya menawarkan solusi internal dalam sains manajemen yang mengabaikan peran dari keterlibatan publik dalam kegiatan-kegiatan di dunia keilmuan. Siapapun yang aktif di The Royal Society dalam 25 tahun terakhir pasti memahami jika ilmu pengetahuan punya arti lebih dari sekedar penelitian, dan bahwa terdapat lebih banyak jumlah keahlian (expertise) dalam sebuah universitas dibanding jumlah akademisi di universitas tersebut. Namun sayangnya sistem kemajuan karir masih terjebak di seputar pengukuran metrik publikasi. Di samping itu, terlalu banyak akademisi yang biasanya mengabaikan kolega-kolega mereka ketika berada di kantor berita untuk komunikasi sains tapi bisa tiba-tiba menjadi pendengar yang baik jika tahu bahwa yang mereka dengarkan sudah bergelar profesor. Jadi, lowongan professorship tadi mungkin bekerja namun hanya di sedikit universitas, tapi sebenarnya tidak bagus, karena keahlian seperti itu hanya memicu ejekan pada dunia kelimuan dan keahlian komunikasi sains. The Royal Society harusnya memahami hal tersebut.

Komunikasi Sains untuk Keterlibatan Publik

Kita membutuhkan lembaga-lembaga berkualitas, perubahan kultur, dan dukungan profesional untuk meningkatkan hubungan antara dunia keilmuan dan masyarakat. Kita benar-benar membutuhkan hal tersebut. Namun nyatanya membuka lowongan profesor itu lebih murah dan mudah (para profesor tentu saja membutuhkan uang, namun mereka tetap lebih murah ketimbang membiayai pembangunan infrastruktur). Dengan mempekerjakan profesor, maka institusi akan mendapatkan orang-orang yang mempunyai rasa hutang budi karena sudah diberi pekerjaan di institusi bersangkutan. Menjadi profesor juga berarti punya rasa aman mengenai posisi pekerjaan, dimana seorang profesor tidak akan merusak tatanan hierarki alami dalam sains. Lagipula, merekalah yang terus mempertahankan nilai keilmiahan dalam dunia keilmuan di atas segala sesuatu. Dengan kata lain, pendekatan “keterlibatan publik” yang visioner malah sebenarnya akan mengurangi kebutuhan akan profesor dengan tidak menambah jumlah untuk mereplikasi keahlian mereka. Kini saatnya bagi The Royal Society untuk menyadari hal ini. (Guardian/A. Bell)

Shares

Share This

Share this post with your friends!