London, Inggris – Imperial College London, salah satu universitas terbaik dunia, mendapat tekanan untuk meninjau kembali kebijakan mereka mengenai penilaian performa dosen setelah kematian seorang profesor yang dipercaya sedang berada di bawah tekanan oleh pihak institusi.

Stefan Grimm (51), seorang profesor bidang toksikologi di Fakultas Kesehatan – Imperial College London, ditemukan meninggal di daerah Northwood, Middlesex. Sebuah penyelidikan yang sempat dibuka di Pengadilan Distrik London Barat kemudian diputuskan ditunda. Kolega-kolega profesor tersebut berkata bahwa Prof. Grimm sangat takut kehilangan pekerjaannya hanya karena jumlah hibah yang tidak mencapai target tertentu. Keluhan-keluhan Stefan Grimm bahkan sempat terekam dalam email yang dikirimkan ke banyak koleganya.

Tragedi Imperial College

Dalam wawancaranya dengan kantor berita Times Higher Education (THE), secara anonim dua akademisi yang mengaku kenal baik dengan Prof. Grimm berkata bahwa di bulan-bulan sebelum kematiannya Grimm sempat mengeluh karena ditekan oleh pihak universitas dan dipaksa melalui penilaian performa kinerja yang sangat kaku. Grimm diceritakan mengaku bahwa dia telah gagal dalam beberapa aplikasi hibah pendanaan riset, dan diberitahu bahwa jika ia terus bertahan di Imperial College itu akan sangat beresiko terhadap karirnya.

Dua akademisi tersebut juga berkata bahwa Grimm merasa dikecewakan oleh pihak Imperial College dan pada bulan-bulan menjelang kematiannya dia merasa tidak diberi dukungan yang memadai. Kantor berita THE menemukan bahwa tak lama sebelum Grimm meninggal, dia sempat meminta untuk tidak dicantumkan sebagai penulis yang bertanggungjawab akan kontak publikasi (corresponding author) dalam beberapa makalah ilmiah yang akan diterbitkan, sehingga salah satu koleganya mengambil alih posisi tersebut.

Seorang juru bicara Imperial College menyatakan bahwa pihak universitas akan menyediakan “semua pendampingan yang mungkin diberikan” selama otoritas terkait melakukan investigasi. Di samping itu, pihak universitas juga melakukan peninjauan internal. Setelah kematian Prof. Grimm, divisi provost Imperial College telah menugaskan direktur Sumber Daya Manusia (human resources) and salah satu perwakilan akademik senior terpilih untuk meninjau ulang kebijakan dan prosedur internal terkait.

Laporan dari kedua pihak peninjau tersebut akan menjadi pertimbangan bagi sekelompok akademisi senior yang dipimpin oleh provost, sehingga pihak universitas akan bergerak cepat untuk mengimplementasikan semua rekomendasi. Juru bicara Imperial College juga menyatakan bahwa pihak Imperial College London berusaha memberikan kesempatan bagi setiap anggota komunitas mereka untuk menunjukkan keunggulannya dengan cara menyediakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan karir.

Dalam pernyataan resminya, pihak universitas juga mengatakan bahwa seperti semua peristiwa serius yang berakhir tragis dengan hilangnya nyawa staf atau mahasiswa, pihak perguruan tinggi akan melakukan tinjauan sesuai dengan situasi yang dihadapi untuk melihat pelajaran yang bisa diambil secara luas. Saat keluarga, rekan-rekan, dan mahasiswa masih harus menghadapi peristiwa kematian, sangatlah penting untuk melakukan semua tinjauan yang mungkin melalui cara-cara yang peka sehingga tidak menciptakan kondisi yang lebih sulit bagi orang-orang tersebut.

Menanggapi beberapa klaim yang menyatakan bahwa pihak universitas seperti menutupi kasus terkait karena hanya memberikan pengumuman sekilas mengenai kematiannya, tidak lebih, pihak universitas menyatakan mereka sudah tahu bahwa sejumlah mantan rekan Prof. Grimm telah menulis obituari dan memasukkannya ke salah satu publikasi yang diterbitkan oleh Nature, salah satu penerbit ilmiah terbesar dunia. Imperial College juga menyatakan bahwa mereka berencana untuk mempublikasikan ulang obituari tersebut, tentunya dengan ijin Nature, setelah resmi diterbitkan. Yang paling penting, kata juru bica Imperial College, adalah bahwa kematian Prof. Grimm adalah “urusan keluarga.” (RE/Mark)

Shares

Share This

Share this post with your friends!